Senin, 11 April 2011

66 tahun lalu, perang besar membakar Surabaya. Siapa pemicu perlawanan terhadap Inggris itu, sehingga banyak orang rela datang ke kota ini dan sama-sama rela mati, meskipun peluang menang sangat kacil.

Selain keberanian Bung Tomo yang akrab didengar dari banyak kisah, penyulut perang besar itu tidak bisa dilepaskan dengan sikap Gubernur Suryo.

Namun, di waktu yang hampir bersamaan, peran kiai NU dari sudut kampung Bubutan juga tidak bisa ditampikkan.

Mereka ikut memompa kenekatan banyak santri yang berduyun-duyun datang ke Surabaya ketika kota ini berkobar hebat.

Kali ini Surya akan mencuplik kisah Gubernur Suryo, karena jarang orang mengenal sosoknya selama perang hebat itu terjadi, selain namanya yang akrab karena menjadi nama jalan depan Gedung Grahadi.

Suara Raden Mas Tumenggung Ario (RMTA) Soerjo, tiba-tiba beberapa kali muncul di corong NIROM di Jl Embong Malang, pada 9 November 1945. Saat itulah Soerjo menjadi tumpuan. Dia menjadi gubernur hanya karena keyakinan.

Kisahnya sebagai gubernur Jatim juga unik. Hanya berbekal surat kawat, dia memimpin Jatim di masa revolusi. Tidak pernah ada catatan di manakah Soerjo dilantik dan oleh siapa, termasuk surat pelantikannya.

Ketika itu rakyat Surabaya menghadapi situasi sangat sulit. Baru saja pecah kisruh di ujung Jembatan Merah pada 29 Oktober, mobil yang di dalamnya ada Jenderal perang Inggris, Brigjen Aulbertin Walter Sothern Mallaby, meledak saat gaduh di depan gedung Internatio itu.

Inggris murka. Almarhum Roeslan Abdulgani dalam bukunya Seratus Hari di Surabaya menyebutkan Panglima Divisi 5 tentara Inggris, Mayjen Robert C Mansergh beberapa kali menjalin pertemuan dengan pimpinan kota ini untuk menangkap sang pengebom.

“Namun beberapa kali pertemuan buntu. Pemuda militan yang dipimpin Bung Tomo sudah siap perang, namun banyak juga yang masih menunggu perintah pusat,” tulis Roeslan.

Usai shalat Jumat, 9 November 1945, pasukan Inggris tiba-tiba menyebar pamflet ultimatum lewat udara agar semua pemuda dan pimpinan pemuda menyerah dan senjata yang dipegang diserahkan di kantor Jalan Jakarta dengan bendera putih.

Jika sampai 9 November tidak digubris, Inggris mengancam menghancurkan Surabaya pada subuh 10 November

Karuan saja Surabaya panik, kekuatan rakyat sudah siaga di empat sektor kota sata itu. Namun benarkah Surabaya siap perang? Banyak yang tidak yakin.

Namun Jumat semakin beranjak malam, Soerjo meminta warga Surabaya tenang karena harus menunggu perintah dari Jakarta. Jam di tangan menunjukkan pukul 23.00 WIB.

Soerjo sudah tahu jawabannya apa yang akan terjadi esok hari. Dia memberanikan memegang corong radio NIROM di Jl Embong Malang.

Dia tidak berbicara dengan berkobar-kobar layaknya suara Bung Tomo. Ia begitu percaya diri karena baru saja Presiden RI Soekarno meneleponnya dan pasrah kepadanya.

Rekaman suaranya menunjukkan Soerjo begitu tenang. Suaranya agak berat, namun isinya membuat bulu kudu merinding.

Saudara-saudara sekalian. Pucuk pimpinan kita di Jakarta telah mengusahakan akan membereskan peristiwa di Surabaya pada hari ini.

Tetapi sayang sekali sia-sia belaka, sehingga semuanya diserahkan kepada kebijaksanaan kita di Surabaya sendiri.

Semua usaha kita untuk berunding senantiasa gagal. Untuk mempertahankan negara kita, maka kita harus menegakkan dan meneguhkan tekad kita yang satu, yakni berani menghadapi segala kemungkinan.

Berulang-ulang telah kita kemukakan bahwa sikap kita ialah: lebih baik hancur daripada dijajah kembali. Juga sekarang dalam menghadapi ultimatum pihak Inggris, kita akan memegang teguh sikap ini. Kita tetap menolak ultimatum itu.

Dalam menghadapi segala kemungknan besok pagi, mari kita semua memelihara persatuan yang bulat antara pemerintah, rakyat, TKR, polisi, dan semua badan-badan perjuangan pemuda kita.

Mari kita sekarang memohon kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga kita sekalian mendapat kekuatan lahir batin serta Rahmat dan Taufik dalam perjuangan. Selamat berjuang!

Sumber : http://regional.kompas.com/read/2009/11/10/15365554/pemicu.perang.10.november.ternyata.bukan.bung.tomo

Tidak ada komentar: